Minggu, 11 Desember 2011

Budidayakan Gaya Hidup Sehat

  • Makan Secukupnya Sesuai Waktunya
  • Konsumsi Makanan Higienis, Matang total
  • Makanan yang baik adalah makanan direbus hingga matang, alami dan fresh
  • Konsumsi air putih yang banyak sesuai suhu normal
  • Gerak teratur dan cukup (olahraga)
  • Istirahat secukupnya
  • Hindari Stress
  • Penuhi hari-hari anda dengan kegiatan positif
  • Makan dengan nutrisi 4 Sehat 5 Sempurna

Jumat, 15 Juli 2011

Anamnesis Pada pasien diare

ANAMNESIS

Pasien dengan penyakit diare

1. Menyapa pasien dengan ramah

2. Memperkenalkan diri

3. Mempersilakan pasien duduk

4. Menanyakan maksud kedatangan pasien

5. Menanyakan kesediaan untuk di wawancara anamnesis

6. Menanyakan identitas pasien

7. Memberitahukan maksud apa yang akan dilakukan

8. Menanyakan keluhan utama pasien : diare

9. Sudah berapa lama ?

10. Kuantitas : tinja padat/lembek/keras, lendir/darah/nanah, ampas, cucian beras, warna dan bau, mengapung/tenggelam

11. Kualitas : seberapa banyak beraknya meningkat, nyemprot/mengalir terus

12. Frekuensi : Seberapa sering diarenya

13. Apakah mengganggu pekerjaan ?

14. Faktor memperberat : apa yang memperberat sakit perut diarenya : apa kalau makan pedas, minum susu

15. Faktor memperingan : Apa yang memperingan sakit perut diare : istirahat, tidur, oralit

16. Gejala penyerta : Muntah, mual, nyeri abdomen, demam, ikterus, penurunan berat badan, anoreksia, bau keton, pingsan, pusing, ruam, artralgia, anemia, perubahan buang air besar

17. Apakah konsumsi obat2an sebelumnya oralit, obat pencahar

18. Riwayat penyakit sebelumnya :DM, Hipertensi, Alergi, penyakit saluran cerna

19. Riwayat mondok di rumah sakit

20. Riwayat menjalani operasi

21. Riwayat mengalami kecelakaan

22. Riwayat penyakit keluarga : apakah dikeluarga ada yang memiliki sakit yang sama

23. Riwayat sosek : lingkungan rumah, perkerjaan, hobi, narkoba, alcohol, rokok, diet konsumsi, jarum suntik, perjalanan keluar negeri

24. Memberi kesempatan pada pasien untuk bertanya

25. Melakukan pengulangan resume hasil anamnesis yang telah di dapat dan arah penyakit

26. Meminta persetujuan pasien lakukan pemeriksaan diagnosis lebih lanjut

Rabu, 23 Maret 2011

MALARIA

Kesehatan | 15.03.2011

Spora Rekayasa Genetika untuk Atasi Malaria


Peneliti berhasil mengembangkan spora rekayasa genetika yang menyerang nyamuk, dimana nyamuk tersebut dapat memproduksi materi melawan malaria dan menjadi sembuh. Dengan demikian nyamuk itu tidak menularkan malaria lagi.

Parasit malaria memerlukan dua inang. Manusia dan nyamuk. Tanpa nyamuk yang terinfeksi bibit penyakit malaria tidak dapat sampai kepada manusia. Tidak heran, jika perang melawan malaria sebagian besar merupakan perang melawan nyamuk. Tapi insektisida kimiawi yang tangguh lama kelamaan hilang keampuhannya. Para pakar mencari alternatifnya di alam. Pakar peneliti serangga Raymond St. Leger dari Universitas Maryland memanfaatkan jamur yang bernama Metarhizium anisopliae. Spora jamur tersebut memang dapat menembus lapisan pelindung kulit serangga, tapi masih ada hambatan lainnya.

”Perlu waktu sangat lama sampai jamur itu mematikan nyamuk. Oleh sebab itu orang harus membawa spora jamur dalam jumlah besar ke seluruh kawasan, untuk memastikan bahwa jamur itu menulari semua nyamuk muda."

Jamurnya mematikan bagi nyamuk, tapi terlalu lamban untuk memutuskan siklus infeksi malaria secara efektif. Oleh karena itu Raymond St. Leger merekayasa jamur itu dengan teknik genetika. Konkritnya : Ia memanfaatkan gen yang bukan menyerang nyamuk melainkan menyerang parasit malaria. Gen-gen tersebut berasal dari berbagai sumber. Yang paling ampuh adalah antibodi manusia terhadap malaria. Tapi juga gen dari sistem imunitas kalajengking mematikan parasitnya.

Juga salah satu hormon dari nyamuk itu sendiri mengikat kelenjar air liurnya dan di sana mendesak parasit-parasit malaria.

“Kami menyisipkan gen ini di dalam jamur yang menyerang serangga dan menembusnya. Nyamuk-nyamuk itu masih dapat hidup lama, tapi hanya dalam beberapa hari jamur-jamur itu mulai memproduksi unsur aktif yang melawan malaria. Dengan begitu juga menyembuhkan nyamuk. Lebih dari 90 persen parasit malaria lenyap dan nyamuk-nyamuk itu tidak lagi dapat menularkan penyakit tersebut."

Terutama yang efektif adalah kombinasi berbagai jenis jamur dengan gen anti malaria yang berbeda. Gen rekayasa itu dikonstruksi sedemikian rupa, agar jamur itu segera aktif jika bersentuhan dengan darah nyamuk. Karenanya dapat berpengaruh secara cepat. Walaupun seekor nyamuk sudah lama terinfeksi malaria, parasit malarianya tidak memiliki peluang hidup lagi. Nyamuk itu mungkin dapat terus hidup beberapa lama, tapi bagi manusia nyamuk itu tidak lagi menjadi ancaman, kecuali rasa gatal di kulit akibat gigitan nyamuk. Dari pihak laboratorium menyatakan, jamur yang direkayasa genetika sudah siap. Kini Raymond St. Leger berpikir bagaimana ia menerapkan khasiat jamur-jamur itu

“Jamur itu dapat dipergunakan seperti racun kimia anti serangga. Dalam bentuk spray atau jebakan aroma pengharum. Orang dapat merendam kain hitam dengan larutan spora jamur dan kemudian memasangnya di rumah. Nyamuk-nyamuk akan menempel pada kain itu dan terinfeksi. Orang juga dapat membubuhkan jamur itu pada kelambu anti nyamuk, semuanya berjalan seperti pada unsur kimia."

Penerapannya secara teknis tidak menjadi masalah. Meski demikian Raymond St. Leger memperhitungkan, bahwa uji coba lapangan yang pertama masih harus menunggu beberapa tahun lagi. Uji cobanya akan dilakukan di Kenya tapi baru dilakukan jika masyarakat di sana berhasil diyakinkan dengan konsep baru tersebut. Pada kenyataannya jamur itu merupakan organisme yang direkayasa secara genetis, dan banyak orang cemas akan hal itu. Tapi Raymond St. Leger meyakinkan bahwa gen buatan ini direkayasa secara spesifik untuk penyakit malaria pada manusia. Gen-gen tersebut akan dikendalikan sakelar genetika, yang menjamin baru akan aktif dalam darah serangga. Terlepas apa yang dilakukan jamur tersebut, gen yang direkayasa itu hanya akan diproduksi pada tubuh nyamuk. Demikian dikatakan St. Leger.

Namun ini tidak mengubah persyaratan bahwa gen rekayasa jamur tersebut baru dapat dikatakan tidak berbahaya, jika telah melalui berbagai studi yang membuktikannya.

Vokart Wildermuth/Dyan Kostermans

Minggu, 19 September 2010

Cutaneus Larva Migran



CREEPING ERUPTION/CUTANEUS LARVA MIGRANS

(ruam menjalar = larva kesasar = larva menjalar)


DEFINISI

Adalah kelainan kulit khas berupa garis lurus atau berkelok- kelok, progresif, akibat larva yang kesasar (seperti benang).

PENYEBAB DAN EPIDEMIOLOGI

· Penyebab :Larva cacing tambang anjing atau kucing (Ancylostoma caninum atau A. braziliense).

· Umur :Biasanya anak-anak atau orang dewasa.

· Jenis kelamin :Lebih sering pada pria.

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TIMBULNYA PENYAKIT

· Bangsa/ras : Bersifat kosmopolit.

· Daerah : Berpasir lembap dan terlindung seperti daerah-daerah perkebunan.

· Kebersihan/higiene : Berperan penting dalam penyebaran penyakit.

GEJALA SINGKAT PENYAKIT

Perjalanan penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan:

Larva menembus kulit tetapi tidak mencapai pembuluh darah dan menyebar disubkutis. Pada tempat masuk larva tampak papula yang selanjutnya menjalar berkelok-kelok, polisiklis sehingga tampak merupakan garis liniar atau berkelok-kelok di kulit. Penderita akan merasa gatal dan nyeri.

PEMERIKSAAN KULIT

· Lokalisasi : Terutama punggung tangan, kaki, anus, bokong, dan telapak kaki.

· Efloresensi dan sifat-sifatnya: Garis merah berkelok-kelok, merupakan kumpulan papula atau vesikel (seperti benang).

PEMERIKSAAN PEMBANTU/LABORATORIUM

Mencari larva dari ujung ruam yang menjalar.

DIAGNOSIS BANDING

Penyakit ini mudah dikenali, sekali lihat tidak akan lupa, tetapi harus didiagnosis banding dengan granuloma anulare atau herpes zoster pada stadium permulaan.

Penatalaksanaan Umum : Menjaga kebersihan lingkungan terhadap reservoir larva.

· Tiobendazol 50 mg/kg BB/hari selama 2 hari.

· Krioterapi dengan salju CO2 ditekan selama 45-60 detik semprotan N20.

· Semprotan dengan kloretil pada ujung lesi sampai beku dengm harapan larva akan mati.

· Antihistamin untuk mengurangi rasa gatal.

Prognosis Baik.


DAFTAR PUSTAKA

Siregar, R.S. 2005. Saripati Penyakit Kulit. Jakarta. Penerbit EGC (hal 172-173)

Filariasis


Filariasis

Penyakit ini dapat disebabkan oleh infestasi satu atau dua cacing jenis filaria yaitu Wucheria bancrofti atau Brugia malayi. Cacing filaria ini termasuk famili Filaridae, yang bentuknya langsing dan ditemukan di dalam sistem peredaran darah limfe, otot, jaringan ikat atau rongga serosa pada vertebrate. Cacing bentuk dewasa dapat ditemukan pada pembuluh dan jaringan limfa pasien.

Masa inkubasi penyakit ini cukup lama lebih kurang 1 tahun, sedangkan penularan parasit terjadi melalui vektor nyamuk sebagai hospes perantara, dan manusia atau hewan kera dan anjing sebagai hospes definitif Periodisitas beradanya mikrofilaria di dalam darah tepi bergantung pada spesies. Periodisitas tersebut menunjukkan adanya filaria di dalam darah tepi sehingga mudah terdeteksi.

Mikrofilaria W. bancrofti ditemukan umumnya pada malam hari (nokturnal) terutama di belahan bumi bagian selatan termasuk Indonesia, sedangkan di daerah pasifik ditemukan siang dan malam (non-periodik). Sedangkan mikrofilaria B. malayi mempunyai periodisitas nokturnal. Sebab timbuhnya periodisitas ini belum diketahui, mungkin dipengaruhi oleh tekanan zat asam dalam kapiler paru atau lingkaran hidup cacing filaria.

Prevalensi mikrofilaria meningkat bersamaan dengan umur pada anak­-anak dan meningkat antara umur 20-30 tahun, pada saat usia pertumbuhan, serta lebih tinggi pada laki-laki dibanding wanita. Lingkaran hidup filaria meliputi : 1). Pengisapan mikrofilaria dari darah atau jaringan oleh serangga penghisap darah; 2). Metamorfosis mikrofilaria di dalam hospes perantara serangga, dimana mula-mula membentuk larva rabditiform lalu membentuk larva filariform yang aktif, 3). Penularan larva infektif ke dalam kulit hospes baru, melalui probosis serangga yang menggigit, dan kemudian pertumbuhan larva setelah masuk ke dalam luka gigitan sehingga menjadi cacing dewasa.

Kekebalan alami atau yang didapat pada manusia terhadap infeksi filaria belum diketahui banyak. Cacing filaria mempunyai antigen yang spesifik untuk spesies dan spesifik untuk kelompok (group spesific); memberi reaksi silang antara berbagai spesies dan nematoda lainnya.

FILARIASIS BANCROFTI, WUCHERIASIS, ELEPHANTIASIS

Penyebab adalah cacing filaria jenis Wucheria bancrofti.

Lingkaran Hidup

Hospes definitif adalah hanya manusia. Penularan penyakit ini melalui vektor nyamuk yang sesuai. Cacing bentuk dewasa tinggal di pembuluh limfe dan mikrofilaria terdapat di pembuluh darah dan limfe.

Pada manusia W bancrofti dapat hidup, selama kira-kira 5 tahun. Sesudah menembus kulit melalui gigitan nyamuk, larva meneruskan perjalanannya ke pembuluh dan kelenjar limfe tempat mereka tumbuh sampai dewasa dalam waktu satu tahun. Cacing dewasa ini sering menimbulkan varises saluran limfe anggota kaki bagian bawah, kelenjar ari-ari, dan epididimis pada laki-laki, serta kelenjar labium pada wanita. Mikrofilaria kemudian meninggalkan cacing induknya, menembus dinding pembuluh limfe menuju ke pembuluh darah yang berdekatan atau terbawa oleh saluran limfe ke dalam aliran darah.

Patologi

Perubahan patologi utama disebabkan oleh kerusakan pembuluh oleh kerusakan pembuluh getah bening akibat inflamasi yang ditimbulkan oleh cacing dewasa, bukan oleh mikrofilaria. Cacing dewasa hidup di pembuluh getah bening aferen atau sinus kelenjar getah bening dan menyebabkan pelebaran pembuluh getah bening dan penebalan dinding pembuluh. Infiltrasi sel plasma, eosinofil, dan makrofag di dalam dan sekitar pembuluh getah bening yang mengalami inflamasi bersama dengan proliferasi sel endotel dan jaringan penunjang, menyebabkan berliku-likunya sistem limfatik dan kerusakan atau inkompetensi katup pembuluh getah bening.

Limfadema dan perubahan kronik akibat statis bersama dengan edema keras terjadi pada kulit yang mendasarinya. Perubahan-perubahan yang terjadi akibat filariasis ini disebabkan oleh efek langsung dari cacing ini dan oleh respon imun pejamu terhadap parasit. Respon imun ini dipercaya menyebabkan proses granulomatosa clan proliferasi yang menyebabkan obstruksi total pembuluh getah bening. Diduga bahwa pembuluh­-pembuluh tersebut tetap paten selama cacing tetap hidup dan bahwa kematian cacing tersebut menyebabkan reaksi granulomatosa dan fibrosis. Dengan demikian terjadilah obstruksi limfatik dan penurunan fungsi limfatik.

Gejala Klinis

Manifestasi dini penyakit ini adalah peradangan, sedangkan bila sudah lanjut akan menimbulkan gejala obstruktif. Mikrofilaria yang tampak dalam darah pada stadium akut akan menimbulkan peradangan yang nyata, seperti limfangitis, limfadenitis, funikulitis, epididimitis dan orkitis. Adakalanya tidak menimbulkan gejala sama sekali terutama bagi penduduk yang sejak kecil sudah berdiam di daerah endemik. Gejala peradangan tersebut sering timbul setelah bekerja berat dan dapat berlangsung antara beberapa hari hingga beberapa minggu (2-3 minggu). Gejala dari limfadenitis adalah nyeri lokal, keras didaerah kelenjar limfe yang terkena dan biasanya disertai demam, sakit kepala dan badan, muntah-muntah, lesu, dan tidak nafsu makan. Stadium akut ini lambat laun akan beralih ke stadium menahun dengan gejala-gejala hidrokel, kiluria, limfedema, dan elephantiasis.

Karena Filariasis bancrofti dapat berlangsung selama beberapa tahun, maka ia dapat mempunyai perputaran klinis yang berbeda-beda. Reaksi pada manusia terhadap infeksi filaria berbeda-beda tidak mungkin stadium ini dibatasi dengan pasti, sehingga seringkali kita membaginya atas dasar akibat infeksi filaria yaitu : 1). Bentuk tanpa gejala; 2). Filariasis dengan peradangan; 3). Filariasis dengan penyumbatan.

Bentuk Tanpa Gejala

Umumnya di daerah endemik, pada pemeriksaan fisik hanya ditemukan pembesaran kelenjar limfe terutama di daerah inguinal. Pada pemeriksaan darah ditemukan mikrofilaria dalam jumlah besar disertai adanya eosinofilia. Pada waktu cacing dewasa mati, mikrofilaria menghilang tanpa pasien menyadari adanya infeksi.

FILARIASIS DENGAN PERADANGAN

Manifestasi terakhir yang biasanya terlihat di awal infeksi pada mereka dengan infeksi primer adalah limfangitis. Limfangitis terjadi di sekitar larva dan cacing dewasa muda yang sedang berkembang, mengakibatkan inflamasi eosinofil akut. Infeksi ini berdasarkan fenomen alergik terhadap metabolisme cacing dewasa yang hidup atau mati, atau sekunder, infeksi oleh streptococcus dan jamur. Demam, menggigit, sakit kepala, muntah dan kelemahan menyertai serangan tadi, dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu, dan yang terutama terkena adalah saluran limfe ketiak, tungkai, epitrochlear dan alat genital. Pada orang laki-laki umumnya terdapat funikulitis disertai dengan penebalan dan rasa nyeri, epididimitis, orkitis dan pembengkakan skrotum.

Demam pada filaria, terjadi karena adanya inflamasi yang berawal dari kelenjar getah bening (biasanya KGB inguinal) dengan perluasan retrograd ke bawah aliran getah bening dan disertai edema dingin. Di sini, inflamasi tampaknya diperantarai oleh imun dan kadang (10-20% kasus) beberapa episode inflamasi diawali dengan infeksi kulit.

Diagnosis

Diagnosis pasti hanya dapat diperoleh melalui pemeriksaan parasit dan hal ini cukup sulit. Cacing dewasa yang hidup di pembuluh getah bening atau kelenjar getah bening sulit dijangkau sehingga tidak dapat dilakukan pemeriksaan parasit. Mikrofilaria dapat ditemukan di dalam darah, cairan hidrokel, atau kadang-kadang cairan tubuh lainnya. Cairan-cairan tersebut dapat diperiksa secara mikroskopik. Banyak individu terinfeksi tidak mengandung mikrofilaria dalam darahnya sehingga diagnosis pasti sulit ditegakkan.

Pada pemeriksaan darah tepi ditemukan leukositosis dengan eosinofilia sampai 10-30%. Di sebagian besar belahan dunia, mikrofilaria aktif malam hari terutama dari jam 10 malam sampai jam 2 pagi. Namun di beberapa daerah Asia dan Pasifik seperti timbulnya subperiodik yaitu timbul hampir sepanjang hari dengan puncak beberapa kali sehari. Pada kasus dengan periodisitas subperiodik diurnal (Infeksi Bancrofti di daerah Pasifik Selatan, Kepulauan Andaman, dan Pulau Nikobar) puncaknya pada pagi hari dan sore hari. Sehingga pengambilan spesimen darah untuk pemeriksaan mikrofilaria harus sesuai dengan puncaknya mikrofilaria aktif didalam darah. Mikrofilaria dapat ditemukan dengan pengambilan, darah tebal atau tipis pada yang dipulas dengan pewamaan Giemsa atau, Wright.

Spesimen darah yang diambil lebih baik diambil dari darah kapiler dibanding dengan darah vena. Terdapat beberapa bukti yang menyebutkan bahwa konsentrasi mikrofilaria di darah kapiler lebih tinggi dibanding dengan darah vena. Volume darah yang digunakan untuk pulasan 50 µl dan jumlah mikrofilaria yang terdapat sekitar 20mf/ml atau merupakan petunjuk adanya mikrofilaria dalam darah.

Akhir-akhir ini penggunaan mikroskopik untuk mendeteksi mikrofilaria sudah mulai tergantikan oleh penggunaan membran yang dikemukakan oleh Bell tahun 1967. Keuntungan dari alat ini sampel dapat disimpan dalam waktu yang lama. Selain itu karena menggunakan formalin maka dapat memfiksasi mikrofilaria dalam darah dan membuang organisme yang tidak diinginkan seperti HIV, Hepatitis B dan Hepatitis C. Pada episode akut, filariasis limfatik harus dibedakan dengan tromboflebitis, infeksi, dan trauma. Limfangitis retrogad merupakan gambaran khas yang membantu membedakan dari limfangitis bakterial yang bersifat asendens.

Pemeriksaan terhadap antigen W. bancrofti yang bersirkulasi dapat membantu penegakkan diagnosis. Dua tes yang tersedia yakni ELISA dan ICT. Sensitivitas keduanya berkisar antara 96-100% dan spesifik mendekati 100%. Tekniknya dengan menggunakan antibodi monoclonal. Terdapat 2 jenis antibodi yang digunakan yaitu AD 12 dan Og4C3. Di Australia menunjukkan bahwa penggunaan antibodi Og4C3 sensitifitasnya 100% pada pasien dengan jumlah mikrofilaria yang namun sensitifitasnya menurun menjadi 72-75% pada pasien dengan jumlah mikrofilaria yang rendah. Spesifitasnya juga tinggi yaitu 99-100% Penggunaan AD12 juga memiliki sensitifitas dan spesifitas yang tinggi yaitu 96-100% untuk sensitifitasnya dan 100% untuk spesifitasnya. Sayangnya, untuk pemeriksaan antigen Brugia saat ini belum tersedia.

Pemeriksaan serologi antibodi juga telah digunakan untuk mendeteksi: W. bancrofti. Kesulitan yang sering timbul spesifitasnya yang rendah Hal ini disebabkan oleh adanya reaksi silang dengan parasit yang lain. Selain itu hasil ini juga tidak dapat membedakan antara infeksi sekarang dan infeksi lampau. Saat ini telah dikembangkan pemeriksaan serologi yang spesifik untuk W. bancrofti yaitu menggunakan antibodi subklas IgG4. Namun sensitifitasnya lebih rendah bila dibandingkan dengan pemeriksaan secara parasitologi lain yaitu sekitar 90-95%.

Pencitraan limfoskintigrafi dengan radionuklir pada ekstremitas menunjukkan abnormalitas sistem limfatik, baik pada mereka yang asimtomatik mikrofilaremik dan mereka dengan manifestasi klinis. Kegunaan dari limfoskintigrafi ini adalah : 1) Peragaan alur aliran limfe; 2). Evaluasi kecepatan aliran limfe, kecepatan absorpsi, dari tempat injeksi, mengukur waktu akumulasi tracer di daerah kelenjar limfe; 3). Peragaan kelenjar limfe; 4). Peragaan pusat inflamasi dengan jaringan lunak dan kelenjar yang baru terbentuk pada proses inflamasi menahun; 5). Menemukan kerusakan trauma saluran limfe; 6). Membedakan edema tungkai limfe, trauma mekanik tungkai bawah; 7). Mengikuti proses perubahan obliterasi limfe.

Pengobatan

Perawatan Umum

· Istirahat di tempat tidur, pindah tempat ke daerah yang dingin akan mengurangi derajat serangan akut.

· Antibiotik dapat diberikan untuk infeksi sekunder dan abses.

· Pengikatan di daerah pembendungan akan mengurangi edema.

Pencegahan

Pencegahan Masal. Kontrol penyakit pada populasi adalah melalui kontrol vektor (nyamuk). Namun hal ini terbukti tidak efektif mengingat panjangnya masa hidup parasit (4-8 tahun). Baru-baru ini, khususnya dengan dikenalnya pengobatan dosis tunggal, sekali pertahun, 2 regimen obat Albendazol 400 mg dan Ivermectin 200 mg/kgBB cukup efektif. Hal ini merupakan pendekatan alternatif dalam menurunkan jumlah mikrofilaria dalam populasi.